
Inilah hasil scan dari artikel ini pada Bulletin Seni & Budaya edisi #1 :-)
Berjalan mengitari kampus ITB seharusnya akan memakan waktu tidak sampai setengah jam. Kampus ini tidak terlalu luas, dan lagi keteduhan dan keteraturan jalannya sangat memudahkan pejalan kaki di dalam kampus. Kalau hari sedang hujan, atap gedung-gedung yang berbaris rapi di dalam kampus juga siap melindungi mereka yang sedang dalam perjalanan.
Tapi ketika kita salah memilih waktu untuk memulai perjalanan itu, bersiap-siaplah untuk menunda janji yang mendesak atau malah mengosongkan jadwal saja sekalian. Kenapa? Karena yang akan kita alami berikutnya sungguh menyita waktu.
Memulai perjalanan dari gerbang ITB di Jalan Ganesha maupun gerbang belakang akan sama saja. Bukan cuaca atau udara yang akan menghambat perjalanan, tapi telingamu. Ya, dua daun yang ada di sebelah kiri dan kanan kepalamulah yang akan membuat perjalanan ini menjadi panjang.
Akan sulit memaksa telinga kita untuk tidak terpanggil oleh alunan nada. Alunan gamelan Sunda dan Jawa, talempong, atau pukulan gong akan menyapa di selatan. Sementara di belahan utara kampus, telinga kita akan berinisiatif menikmati gamelan Bali atau hentakan bass drum diiringi distorsi gitar. Tunggu dulu! Jangan langsung mengambil langkah seribu jika nada-nada itu tidak cocok dengan seleramu. Susuri dulu Sunken Court sampai ke ujung selatannya, musik Jepang, musik dinamis dari Sumatra Utara, bahkan lagu rohani, akan semakin memaksa telingamu mengambil alih komando tubuhmu.
Jika sudah dapat menguasai diri kembali untuk melanjutkan perjalanan, lanjutkanlah perjalananmu. Tapi siapkan telingamu, karena sebentar lagi mereka akan kembali mendapat sapaan manis.
Ya, suara yel-yel dan nyanyian mereka yang berjalan berbaris di sekitar kampus itu memang juga menarik untuk didengarkan dan membakar semangat. Berhenti sebentar untuk kemudian turut merasa gagah bersama mereka tidak salah samasekali. Tapi jangan pernah berpikir untuk ikut masuk ke dalam barisan mereka kecuali kamu siap menyudahi perjalanan menjadi turis ini.
Ketika suara mereka sudah mengecil di kejauhan, coba dengarkan suara lain yang tak jauh di sana. Ada tiupan terompet dan teman-temannya, pukulan bersemangat cymbal dan aneka musik pukul yang terkomposisi rapi. Mustahil jika kamu melewatkan musik menarik ini. Irama yang ditawarkannya akan mengingatkanmu pada semangat patriotisme upacara bendera di Istana Negara.
Sadar atau tidak, kampus ITB secara alami adalah mega panggung yang sulit ditandingi kemegahannya oleh konser musik apapun. Tanpa pencahayaan dahsyat, tanpa harus disutradarai, musik-musik itu tertata rapi dengan sendirinya.
CD kompilasi mana yang bisa menandingi keragamannya? Bukan hanya sekedar genre, bukan lagi membicarakan aliran musik yang semakin lama semakin sulit untuk dihapal namanya satu per satu. Keanekaragaman musik yang terangkum di sini, jika diberi label harga, tentu angka yang tercetak akan jauh melebihi empat puluh lima ribu rupiah.
Pada akhirnya, menyaksikan hal yang luar biasa seperti ini tentu akan membuat kita mengesampingkan selera. Dengarkan semuanya sebagai satu kesatuan. Bayangkan dirimu menjadi August Rush yang menurut orang-orang terlalu dibesarkan. Itu bukan suara satu jenis musik yang sedang berusaha mendominasi musik lain, tapi suara berbagai jenis musik berkolaborasi. Jika kita bisa mendengar mereka berbicara, yang akan kita dengar adalah satu bahasa, bahasa keindahan.
Nah, sekarang coba cek jam tanganmu, sudah berapa lama waktu yang kamu habiskan?